Ornamen Atas
Kembali

Tokoh & Leluhur

Jejak Pencerah Peradaban Desa

Masa Transisi Awal Islam

Mbah Buyut Mahesa Suro
Sosok jawara lokal pembawa ajaran Islam tahap awal yang dikisahkan bertemu Mbah Kuwu Sangkan sekitar tahun 1480-1500 M[cite: 1]. Makamnya dihiasi tanaman Pakis Haji yang menyimbolkan kompromi budaya antara bangsawan Pajajaran dan Islam[cite: 1].
Embah Arya Sulthon Nangga
Cucu Sunan Gunung Jati dari jalur Pangeran Pasarean[cite: 1]. Diutus untuk membuka permukiman (Yasa Desa) pada pertengahan abad ke-16, meski sempat mundur ke Pamulihan karena kuatnya pengaruh Kabuyutan kuno saat itu[cite: 1].
Buyut Gugur
Tokoh pada akhir abad ke-16 yang menjadi simbol sinkretisme. Makamnya tersusun dari batu temu gelang bergaya megalitik dan kental dengan memori penjaga Macan Putih[cite: 1].

Ulama Era Mataram & Birokrasi

Eyang Lebe Damar
Kehadirannya menjadi penanda penting transformasi kepemimpinan desa: dari otoritas berbasis kesaktian para Resi menuju pejabat resmi urusan syariat Islam (Lebe)[cite: 1].
Syekh Haji Mataram & Syekh Majuja
Tokoh ulama-militer dan mediator budaya yang berperan krusial merawat warga dan prajurit di tengah masa mobilisasi logistik dan wabah pada Perang Mataram (1628-1629)[cite: 1].

Era Menak-Santri

Pangeran Kertadiningrat
Bangsawan tinggi (cicit Panembahan Girilaya) yang memilih jalan uzlah dari Keraton Cirebon ke pedalaman Cilaja pada era 1730-an[cite: 1]. Beliau meletakkan landasan Tarekat Syattariyah, membuka lahan irigasi, mengajarkan seni dakwah Gembyung, serta mewariskan manuskrip berharga salinan kitab Ibnu 'Arabi[cite: 1].

Jejaring Segitiga Emas

Hasan Amir & Nyai Kasmi
Keturunan Eyang Hasan Maolani dari jalur Karangmangu yang diutus menyebarkan dakwah di Cilaja pada akhir abad ke-19[cite: 1]. Hasan Amir mendirikan Langgar At-Taqwa sebagai pusat pendidikan, sementara Nyai Kasmi menjadi rujukan hukum keagamaan kaum ibu desa[cite: 1].
Ornamen Bawah
Beranda Timeline Tokoh Situs