Pusat Air & Spiritual
Situ Cimanangga
Mata air purba yang menjadi pusat kosmologis (puseur) kehidupan awal. Di area mata air ini terdapat gundukan batu yang dikenal warga sebagai Makam Sicucuk (berkaitan dengan mitos ikan si cucuk), sebuah petilasan yang menyerupai makam/gundukan batu, serta temuan batu pipih kuno.
Batu Kembar
Situs yang terletak di area alun-alun desa Cilaja. Keberadaan batu ini memiliki nilai historis yang kuat karena telah terekam secara otentik dalam gambar sketsa laporan arkeologi F.C. Wilsen yang diterbitkan pada tahun 1855.
Batu Bujal Dayeuh
Formasi batu kuno di Dusun Manis. Secara toponimi bermakna "pusar/pusat kota", menandakan titik sentral awal tata ruang permukiman (Dayeuh) sebelum meluas.
Artefak Estetika & Jejak Material
Ukiran Mihrab (1924 M)
Mahakarya seni ukir kayu yang dikerjakan oleh seniman sekaligus ulama Kyai Ahmad Dasuki. Artefak ini saat ini tersimpan dengan baik di Tajug Kidul (sekarang menjadi Langgar At-Taqwa).
Nisan Buyut Ngabei
Sebuah nisan bersejarah dengan angka tahun bertuliskan 1223 H atau 1228 H (sekitar 1809/1813 M). Karena angka terakhir dan sebagian nama pada batu nisan terkena korosi, masyarakat setempat secara turun-temurun menyebut sosok tersebut sebagai "Buyut Ngabei".
Kentongan Tua (±1981)
Artefak alat komunikasi dan penanda waktu tradisional buatan sekitar tahun 1981 yang masih terjaga dan tersimpan di Langgar At-Taqwa.
Batu Cekung Tempat Dupa
Sebuah artefak batu berpermukaan cekung yang difungsikan sebagai tempat pembakaran dupa, terletak persis di area pusara makam Mbah Buyut Mahesa Suro. Artefak ini menjadi saksi kesinambungan tradisi kultural warga setempat.