Ornamen Atas
Kembali

Identitas Desa

Menggali Jati Diri Cilaja

Makna Nama "Cilaja"

Nama Cilaja bukan sekadar penunjuk lokasi, melainkan simpul makna yang menyatukan masyarakat dengan alamnya.

  • "Ci" (Cai): Merujuk pada air yang berdaya lindung, membersihkan, dan menyembuhkan, yang berpusat di Situ Cimanangga.
  • "Laja" (Lengkuas): Tanaman obat rimpang yang menyimpan kekuatannya di dalam tanah; melambangkan kekuatan yang menyembuhkan sekaligus mengawetkan kearifan.

Secara filosofis, Cilaja bermakna desa yang airnya membasuh dan warganya mengakar kuat seperti rimpang laja, senantiasa memberi manfaat bagi sesama.

Sejarah Dusun (Pancawara)

Jauh sebelum penataan modern, titik nol Cilaja berada di wilayah bernama Dayeuh (Pusat), lalu meluas menjadi Dukuh, Parigi, dan Karang Anyar.

Ketika pengaruh Kerajaan Mataram Islam masuk pada abad ke-17, nama wilayah ditata berdasarkan hari pasaran Jawa (Pancawara) untuk mengatur gotong royong dan jadwal pasar mingguan. Dusun-dusun pun mulai menggunakan nama Manis (Legi), Pahing, Puhun (pelafalan lokal dari Pon), Wage, dan Kaliwon.

Milangkala Tahun 1730

Hari jadi Desa Cilaja ditetapkan berdasarkan penelitian genealogi atas masa kedatangan Pangeran Kertadiningrat (Cicit Panembahan Girilaya) pada dekade 1730-an.

Secara kosmologis dan teologis, tahun Masehi dan Hijriahnya menyiratkan dua doa abadi:

  • 1730 M: Berwatak "Sri" dalam perhitungan budaya, bermakna kemakmuran dan kedaulatan pangan, sejalan dengan QS. Al-Isra: 30 tentang kelapangan rezeki.
  • 1142 H: Menggambarkan "Bahtera Penyelamat", sejalan dengan QS. Hud: 42. Menandakan Cilaja sebagai tempat berlindung di tengah badai perubahan zaman.

Ikatan "Cilaja Raya"

Secara historis dan kultural, Desa Cilaja, Desa Bojong, dan Desa Gereba tidaklah terpisahkan. Mereka dipersatukan oleh ikatan silsilah yang bermuara pada leluhur yang sama, yakni keturunan Pangeran Kertadiningrat. Ketiga desa ini bagaikan satu "Keluarga Besar" yang mendiami lereng subur Ciremai.

Ornamen Bawah
Beranda Timeline Tokoh Situs