Nama Cilaja bukan sekadar penunjuk lokasi, melainkan simpul makna yang menyatukan masyarakat dengan alamnya.
Secara filosofis, Cilaja bermakna desa yang airnya membasuh dan warganya mengakar kuat seperti rimpang laja, senantiasa memberi manfaat bagi sesama.
Jauh sebelum penataan modern, titik nol Cilaja berada di wilayah bernama Dayeuh (Pusat), lalu meluas menjadi Dukuh, Parigi, dan Karang Anyar.
Ketika pengaruh Kerajaan Mataram Islam masuk pada abad ke-17, nama wilayah ditata berdasarkan hari pasaran Jawa (Pancawara) untuk mengatur gotong royong dan jadwal pasar mingguan. Dusun-dusun pun mulai menggunakan nama Manis (Legi), Pahing, Puhun (pelafalan lokal dari Pon), Wage, dan Kaliwon.
Hari jadi Desa Cilaja ditetapkan berdasarkan penelitian genealogi atas masa kedatangan Pangeran Kertadiningrat (Cicit Panembahan Girilaya) pada dekade 1730-an.
Secara kosmologis dan teologis, tahun Masehi dan Hijriahnya menyiratkan dua doa abadi:
Secara historis dan kultural, Desa Cilaja, Desa Bojong, dan Desa Gereba tidaklah terpisahkan. Mereka dipersatukan oleh ikatan silsilah yang bermuara pada leluhur yang sama, yakni keturunan Pangeran Kertadiningrat. Ketiga desa ini bagaikan satu "Keluarga Besar" yang mendiami lereng subur Ciremai.